Sunday, November 16, 2008

untitled

Rabu, 12 November 2008
05.00 am


Tidak seperti biasanya, pagi itu aku dibangunkan oleh mamaku (biasanya aku terbiasa bangun sendiri).

"Dek, kok belum bangun? Kamu sakit?"

Mamaku memegang keningku, "Ya ampun dek, badan kamu panas banget."

Yaa, malamnya aku memang sudah merasa tidak enak badan, pusing, batuk, pilek, sakit perut, ditambah RF yang kambuh. Mungkin sakitku ini disebabkan karena aku kebanyakan pikiran. Dan pagi itu, aku merasa kepalaku 'berat' sekali, dan rasanya sulit sekali untuk berdiri menopang tubuhku sendiri. Akhirnya, aku memutuskan untuk tidak masuk sekolah. Aku mengabari beberapa temanku kalau aku sakit, dan mamaku menghubungi wali kelasku (sayangnya, wali kelasku tidak dapat dihubungi)

Sekitar jam 9 pagi, aku pun pergi ke dokter. Kata dokter, aku 'cuma' sakit radang tenggorokan dan kecapekan, sementara sakit perutku 'hanya' karena iritasi makanan. Dokterku memberiku 4 macam obat, 3 tablet dan 1 obat sirup (huh, aku benci sekali obat batuk sirup!). Dokterku juga menyebutkan beberapa makanan yang sebaiknya tidak aku makan agar perutku tidak sakit. Yang aku dengar dan aku ingat, larangan itu adalah kopi, teh, cokelat, gorengan, makanan yang pedas dan kecut, dan tentu saja makanan dan minuman dingin.
Sebelum pulang, dokterku berkata, "Istirahat tiga hari yaa..."

Hari itu aku tidak bisa beranjak dari tempat tidur. Kegiatanku hari itu hanya tidur, makan, minum obat, shalat, mandi, tidur lagi. 'Siklus' itu hanya diselingi oleh telepon dari ayahku (yang terdengar sangat cemas) dan guruku, serta sms-an dengan temanku untuk menanyakan apa saja yang 'terjadi' di sekolah hari itu.

Bagiku, tidak masuk sekolah sehari, bagaikan tidak masuk sekolah seminggu (wew lebay...). Karena itu, esok harinya aku masuk sekolah. Untuk kesekian kalinya, aku melanggar 'perintah' dokterku untuk istirahat tiga hari.

Di sekolah keesokan harinya, ternyata ada pengambilan nilai senam aerobik. Dalam keadaan sakit, aku pun senam aerobik (yaampuunn...). Tapi kerja kerasku tidak sia-sia, kelompokku mendapat nilai 100! (alhamdulillah)

Sabtu, 15 November 2008

Pagi-pagi aku sudah tiba di sekolah untuk BTA, tapi ternyata ohh ternyata..
Tidak ada BTA saudara-saudara!
BTA ditiadakan karena hari itu ada pembagian rapor kelas reguler.

Untuk mengatasi kekecewaanku, aku, ayas, bebi, dan metta memutuskan untuk pergi ke Bedah Kampus UI (padahal aku belum sembuh). Kami pergi ke UI naik kendaraan umum, padahal tidak satu orang pun diantara kami yang tahu pasti rute ke UI dengan naik kendaraan umum. Aku, bebi, dan metta pun hanya mengandalkan ayas yang lebih tahu dibanding kami bertiga (walaupun ayas sendiri juga tidak yakin).

Setelah naik angkot 19, lalu disambung dengan angkot 16, kami sampai di stasiun Kalibata. Kami membeli tiket kereta menuju Depok dan kami dikagetkan dengan harganya yang hanya Rp. 1500! Aku menyarankan teman-temanku untuk bertanya pada petugas loket apakah itu benar-benar tiket kereta AC yang menuju Depok, karena setahuku, tiket kereta AC yang menuju Depok itu harganya Rp. 6000. Tapi, tidak satupun diantara kami yang berani bertanya.

Kemudian, kecurigaanku terbukti. Saat kami sudah berada di kereta, petugas kereta tersebut mengatakan bahwa tiket yang kami beli salah dan kami harus membayar tiket suplisi yang harganya Rp. 10.000. Yang membuat kami malu, di depan kami ada anak 81 juga! (duh, malunyaa....)

Dari UI, aku tidak langsung pulang ke rumah, tapi mampir ke Gramedia Pondok Gede dulu karena diprovokasi sama bebi. Di perjalanan pulang, aku menyadari sesuatu. Aku tidak minum obat saudara-saudara! Gimana mau sembuh kalau aku nggak rajin minum obat? (haduh.haduh)

Apa yang aku dapat dari Bedah Kampus UI?
1. Informasi-informasi penting tentu saja.
Salah satunya, UMB digantikan dengan SIMAK yang akan dilaksanakan tanggal 1 Maret 2009 (wew).

2. Kebingungan dan kebimbangan.
Aku jadi semakin bingung mau pilih jurusan apa. Teknik Kimia atau Teknik Fisika? Kalau sekadar ditanya aku lebih suka kimia atau fisika, tentu saja aku akan menjawab fisika. Ehh, tunggu dulu! Apa sekarang ini aku benar-benar masih suka fisika? (FYI, sejak aku sakit hati sama guru fisikaku, aku jadi sangat membenci KBM fisika).

3. Penyakitku yang tambah parah.
Gara-gara nggak minum obat seharian, batuk-pilekku tambah parah. Ditambah lagi sakit perut dan RF yang kambuh (astaghfirullah). Sampai saat aku menulis posting ini pun, aku masih sakit perut. Mungkin ini akibatnya, kalau terlalu sering melanggar nasihat dokter. Hhh...

Wednesday, November 05, 2008

Keterpaksaan Tidak Akan Membawa Kebaikan Sama Sekali

wew.wew.wew...
kok aku ngeblog lagi?
katanya mau jarang blogging?
nahloh....hhahaha
(apa sih maal? :p)

Hmm...
Judul posting ini sebenarnya berasal dari pemikiranku, kesimpulan yang aku ambil dari pengalaman yang terjadi pada diriku beberapa bulan terakhir.
Sebenarnya ada beberapa hal yang menyebabkan aku menarik kesimpulan bahwa keterpaksaan itu tidak membawa kebaikan sama sekali.
Tapi, aku ceritakan salah satu saja yaa...

Begini ceritanyaa....
Sejak SD, aku mengikuti les Bahasa Inggris di LIA. Beberapa waktu yang lalu, aku sudah memutuskan untuk berhenti les karena aku ingin konsentrasi belajar untuk persiapan UAN. Saat itu, aku benar-benar ingin segera berhenti les. Bahkan, aku ingin berhenti les di tengah-tengah term. Aku sudah merencanakan apa yang akan aku lakukan setelah aku berhenti les LIA (ikut bimbel, belajar bersama, atau belajar sendiri).

Sisa-sisa term itu aku jalani dengan 'sedikit' malas, bahkan aku ada niat untuk tidak mengikuti promotion test karena tohh aku tidak akan melanjutkan ke level selanjutnya. Tapi akhirnya aku pun mengikuti promotion test itu juga. Di akhir promotion test, aku berpamitan dengan teman-teman sekelasku. Aku mengatakan pada mereka bahwa aku tidak akan melanjutkan les lagi.

Seminggu setelah promotion test, ayahku bertanya padaku.

"Dek, udah diliat hasil ujian LIA-nya?"

"Blom, Pa. Ngapain? Kan aku gak mau ngelanjutin..."

"Ya gak apa-apa. Papa pengen tahu nilai kamu."

Ayahku memang selalu memantau nilaiku di LIA (dan di sekolah juga tentu saja). Tapi, aku tidak nurut sama ayahku. Aku tetap tidak mau melihat hasil ujianku.
Sampai akhirnya, saat ayahku cuti lebaran dan pulang ke Jakarta (FYI, ayahku bekerja di Surabaya), ayahku datang ke LIA dan melihat nilai ujianku, tanpa sepengetahuanku.

Sesampainya di rumah....

"Dek, alhamdulillah... Kamu outstanding student lagi! Kamu sih, gak nurut sama papa! Papa suruh liat nilainya kok kamu gak mau!"

"Hah??? outstanding??? Kok bisa???"

"Ya ini buktinya. Nanti habis lebaran kamu urus sertifikatnya, trus daftar ulang."

"Yaudah, aku ambil sertifikatnya aja. Tapi aku gak mau ngelanjutin ya, Pa."

"Loh! Kok ga dilanjutin? Kan gratis, dek?"

Hhh...
Tak disangka-sangka, aku 'terpilih' menjadi outstanding student saudara-saudara! Seorang outstanding student berhak mendapatkan hadiah semacam beasiswa (aku bisa melanjutkan kursus di level selanjutnya tanpa membayar sepeser pun alias gratis).
Akhirnya, atas dorongan kedua orang tuaku, aku pun terpaksa melanjutkan les.
Keterpaksaan ini bukan berarti aku tidak mensyukuri pemberian Allah, tapi karena aku merasa kekurangan waktu untuk belajar persiapan UAN.

Dua pertemuan pertama, aku memang masih mengikuti les.
Walaupun perasaan terpaksa masih menyelimuti diriku, aku tetap memaksakan diri untuk les.
Tapi, hal yang tidak diinginkan pun terjadi.
Dua pertemuan berikutnya, aku tidak masuk.
(FYI, aku les jam 5 sore sampai jam 9 malam, seminggu sekali)

Alasan pertama:
Keesokan harinya aku akan pentas drama kelas.
Sepulang sekolah aku latihan drama sampai sore dan esoknya aku harus datang pagi.
Jadi, malamnya aku harus cukup istirahat.

Alasan kedua:
Keesokan harinya aku mengikuti lomba.
Jadi, malamnya aku harus belajar dan cukup istirahat.

Batas maksimal ketidakhadiran siswa adalah tiga kali dan aku sudah tidak masuk dua kali.
Aku pun berpikir, kalau minggu ini aku masuk, aku sudah tertinggal pelajaran cukup jauh.
Jadi, aku memutuskan untuk berhenti les saja.
Aku meminta izin pada orang tuaku, tapi mereka tetap memaksaku untuk melanjutkan les. Aku pun beradu argumen dengan orang tuaku (wew), tapi hasilnya tetap 'menggantung'.

Ibuku memang sudah mengizinkan aku untuk berhenti les, tapi ayahku........................
Hhh...
Ayahku memang sangat keras kepala (sama denganku), jago argumen, dan sangat sulit dibujuk.
Bahkan, SMS terakhirku yang aku tujukan pada ayahku (isinya penjelasan mengapa aku ingin berhenti les), tidak dibalas.

Yaaahh...
Itulah salah satu akibat dari keterpaksaan.
Saranku, jangan melakukan sesuatu karena terpaksa, dipaksa oleh orang lain, tanpa niat dan keikhlasan dari diri kita sendiri, karena keterpaksaan tidak akan membawa kebaikan sama sekali.